MUI SultengTausiah

7 Senjata Ampuh Anak Muda Muslim: Dari Minder Jadi Percaya Diri

Sigi, MUI Sulteng – Kita hidup di zaman serba cepat dan penuh perbandingan. Media sosial yang awalnya untuk terhubung, kini sering jadi tempat pamer pencapaian: liburan mewah, rumah megah, tubuh ideal, pasangan idaman. Sementara kita yang masih berjuang dengan kuliah, pekerjaan, atau menjaga kesehatan mental jadi merasa minder dan tertinggal.

Fenomena ini disebut insecure: merasa kurang, tidak layak, dan tidak cukup. Padahal setiap orang punya perjalanan hidup masing-masing. Sayangnya, kita sering terjebak membandingkan diri dengan standar yang belum tentu nyata. Akibatnya, banyak yang kehilangan semangat, lupa bersyukur, bahkan rusak mentalnya demi validasi.

Motivasi saja tidak cukup. Insecure bukan cuma soal mental, tapi juga soal spiritual. Kita butuh pondasi hidup yang kuat, bukan sekadar semangat sesaat. Di sinilah Islam hadir membawa solusi dengan mindset Islami, cara pandang hidup yang berakar dari iman.

Ada tujuh prinsip utama dalam Islam yang bisa jadi pegangan agar tidak mudah insecure: ikhlas, syukur, tawakal, ihsan, sabar, ilmu, dan fastabiqul khairat. Inilah fondasi yang bisa membuat hidup lebih tenang, fokus, dan penuh makna.

1. Mindset Ikhlas – Niat yang Jernih, Hati yang Ringan

Coba tanyakan ke dirimu sendiri: saat kamu belajar keras, berkarya, ikut organisasi, atau bahkan upload di media sosial, niatmu apa? Apakah karena ingin dilihat orang? Apakah sekadar ingin dipuji? Atau murni karena ingin mendapat ridha Allah?

Jujur saja, banyak dari kita yang tanpa sadar melakukan sesuatu demi validasi. Kita senang dipuji, senang dilihat keren. Tidak salah, itu manusiawi. Tapi kalau terlalu tergantung pada penilaian orang, kita akan mudah kecewa saat tak dihargai.

Allah berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ikhlas itu fondasi. Ia membuat hati ringan, tidak tersiksa oleh ekspektasi orang. Kalau kamu belajar karena Allah, kamu tetap semangat meski tak ada yang lihat. Kalau kamu berkarya karena Allah, kamu tetap puas walau tak viral. Anak muda yang ikhlas tidak butuh validasi sosial cukup Allah yang menilai.

2. Mindset Syukur – Fokus Nikmat, Bukan Kekurangan

Banyak anak muda merasa tertinggal karena sibuk membandingkan diri. Lihat orang lain jalan-jalan ke luar negeri, posting pencapaian besar, rasanya hidup kita kok gini-gini aja. Padahal kalau kita lihat lebih jujur, nikmat Allah tak pernah berhenti mengalir.

Allah berjanji:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7)

Syukur bukan cuma mengucap alhamdulillah. Syukur itu sadar nikmat (dengan hati), menyebutnya (dengan lisan), dan menggunakannya untuk kebaikan (dengan perbuatan). Mungkin kamu belum punya penghasilan besar, tapi kamu punya waktu luang dan akal sehat. Itu juga nikmat luar biasa.

Orang yang bersyukur akan fokus pada yang ada, bukan yang kurang. Dia jadi lebih tenang, tidak mudah iri, dan lebih produktif.

3. Mindset Tawakal – Tenang Setelah Usaha Maksimal

Banyak yang cemas berlebihan soal masa depan: takut gagal ujian, takut tak diterima kerja, takut pilihan hidupnya salah. Wajar, kita manusia. Tapi jika rasa cemas menguasai, kita bisa lumpuh takut melangkah.

Tawakal adalah penawarnya. Bukan pasrah tanpa usaha, tapi berusaha sekuat tenaga lalu menyerahkan hasilnya pada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung: pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Burung tak tinggal diam. Ia terbang, berusaha. Tapi hasilnya Allah yang atur. Begitu juga kita. Anak muda yang bertawakal tetap belajar, berjuang, mencoba tapi tidak panik soal hasil. Karena ia yakin, Allah tak pernah salah rencana.

4. Mindset Ihsan – Merasa Diawasi Allah

Pernah tidak kamu mengerjakan sesuatu dengan lebih serius hanya karena diawasi guru, atasan, atau orang tua? Saat merasa diawasi, kita jadi lebih rapi, teliti, dan disiplin.

Ihsan adalah kesadaran bahwa Allah selalu melihat kita, kapan pun dan di mana pun. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika tidak, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Dengan ihsan, kita akan tetap jujur walau tidak diawasi. Kita akan tetap disiplin walau tidak dinilai. Kita akan tetap profesional, meski tak ada yang memuji. Anak muda yang punya ihsan memiliki integritas, dan integritas itu langka tapi sangat berharga.

5. Mindset Sabar – Kekuatan Tahan Banting

Tak ada hidup yang selalu mulus. Ada yang gagal masuk kampus impian, ditolak kerja, patah hati, atau bahkan dikhianati. Hidup adalah ujian, dan sabar adalah jawabannya. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar bukan hanya menahan marah. Sabar adalah kemampuan untuk tetap teguh di jalan kebaikan, meski terasa berat. Anak muda yang sabar tidak mudah menyerah. Ia tahu bahwa kegagalan hari ini bisa jadi pembuka keberhasilan esok hari. Ia tahan banting, bukan karena tidak lelah, tapi karena tahu Allah selalu bersamanya.

6. Mindset Ilmu – Investasi Sejati

Di era sekarang, skill dan pengetahuan bisa jadi pembeda. Banyak yang mengejar uang dan popularitas, tapi lupa bahwa ilmu adalah kunci untuk mendapat semua itu dengan cara yang halal dan berkah.

Allah berfirman:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Ilmu tak selalu didapat di kampus. Baca buku, ikut pelatihan, belajar dari mentor, bahkan dari kegagalan semuanya bisa jadi sumber ilmu. Anak muda yang berilmu akan lebih percaya diri, lebih bijak mengambil keputusan, dan lebih siap menghadapi tantangan.

7. Mindset Fastabiqul Khairat – Berlomba dalam Kebaikan

Banyak anak muda berlomba-lomba ingin jadi yang paling kaya, paling keren, paling terkenal. Tapi Islam mengajarkan kita untuk berlomba dalam kebaikan. Bukan berarti kita anti sukses duniawi. Tapi tujuan kita bukan cuma dunia. Kita ingin bermanfaat. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Thabrani).

Anak muda dengan mindset fastabiqul khairat akan aktif mencari peluang untuk berkontribusi.

(Penulis: Ilyansyah, Haikal, Fajri, Faruk, Isran)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker