Lewat KKN UIN Datokarama, MUI Sulteng Dorong Penguatan Moderasi Beragama di Desa Toaya
Sigi, MUI Sulteng – Bendahara Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tengah, Mokh. Ulil Hidayat, S.Ag., M.Fil.I, hadir sebagai narasumber dalam seminar bertajuk “Merawat Kebhinekaan Melalui Moderasi Beragama” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Datokarama Palu Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Senin (3/11/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat umum, serta para mahasiswa KKN yang tengah melaksanakan pengabdian di wilayah tersebut. Suasana acara berjalan dengan lancar dan diwarnai dengan antusias peserta yang tinggi dalam mengikuti setiap paparan dan diskusi yang disampaikan.
Dalam materinya, Ustadz Ulil Hidayat menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang terdiri dari keberagaman, sehingga moderasi beragama menjadi solusi penting dalam menjaga harmonisasi kehidupan berbangsa.
“Moderasi beragama bukan berarti mengaburkan keyakinan, tetapi memberikan ruang bagi setiap umat untuk mengekspresikan ajaran agamanya, dengan tetap menghormati hak dan kepercayaan orang lain,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa perbedaan merupakan sunatullah atau keniscayaan yang harus dikelola dengan bijak, bukan dijadikan alasan untuk berpecah. Ia mencontohkan perbedaan pandangan dalam pelaksanaan Maulid Nabi.
“Ada yang melaksanakan, ada juga yang tidak. Tapi yang terpenting adalah saling menghargai, karena di dalam peringatan Maulid terdapat nilai-nilai kebaikan, seperti mempererat silaturahmi dan menumbuhkan semangat gotong royong dalam Islam,” ujarnya.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan pandangan Ustadz Ulil mengenai sikap fanatik dalam beragama. Menanggapi hal tersebut, ia menjelaskan bahwa fanatik sejatinya merupakan sikap yang perlu dimiliki setiap pemeluk agama, namun harus ditempatkan secara proporsional.
“Fanatik itu penting, tapi harus tahu tempat, situasi, dan kondisi. Jangan di ruang publik yang heterogen kita merasa paling benar sendiri. Cukup simpan dalam hati. Bayangkan, kalau kita shalat tanpa rasa fanatik pada agama kita, berarti kita tidak sungguh-sungguh meyakini kebenarannya,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, Ustadz Ulil Hidayat mengajak masyarakat dan mahasiswa untuk terus menumbuhkan semangat toleransi serta menjadikan moderasi beragama sebagai panduan dalam menjaga kerukunan dan persaudaraan di tengah perbedaan.
(Penulis: Haikal dan Ilyansyah )






