“Membentuk Generasi Cinta Al-Qur’an, TPA Al-Markaz Al-Islami Tawarkan Pembelajaran Menyenangkan”
Sigi – MUI Sulteng, Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) Al-Markaz Al-Islami yang berlokasi di Kompleks Islamic Center MUI Provinsi Sulawesi Tengah, Kelurahan Tinggede, Kabupaten Sigi, merupakan pusat pembinaan anak-anak dalam membaca, menulis, dan memahami Al-Qur’an. Beroperasi mulai Senin hingga Kamis, TPA ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat setempat, khususnya di kawasan perumahan BTN, yang sebelumnya belum memiliki taman pengajian.
Untuk menjalankan visi tersebut, TPA ini didukung oleh empat tenaga pengajar yang kompeten, yaitu Ustadzah Fahmi, Ustadzah Nizar, Ustadz Asri, dan Ustadz Syahrul, yang membimbing sekitar 40 murid terdaftar. Meski begitu, jumlah peserta yang hadir setiap hari bervariasi, dengan rata-rata sekitar 25 anak. Kegiatan belajar ini dimulai pukul 16.00 dan berakhir pukul 17.30 WITA.
Selain itu, TPA Al-Markaz Al-Islami menawarkan lima program unggulan yang menjadi nilai tambah, yaitu Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ), Tajwid, Tahsin, Akhlak, dan Kajian Islami. Program-program ini dirancang agar murid tidak hanya pandai membaca, tetapi juga memahami kaidah tajwid, memperbaiki bacaan melalui tahsin, membentuk akhlak mulia, dan menambah wawasan keislaman.
Dalam pelaksanaannya, metode pembelajaran di TPA ini disusun secara bertahap. Anak-anak memulai dengan hafalan surah-surah pendek dari Al-Kautsar hingga An-Nas, kemudian melanjutkan pembelajaran Iqra, mengaji, hingga pulang bersama.
Salah satu pengajar Ustadzah Nizar menjelaskan, “Metode pembelajaran yang kami terapkan tentunya menargetkan anak-anak menjadi hafidz. Selain itu, juga ada pembelajaran teks. Biasanya, saat pertama kali masuk, anak-anak dimulai dengan menghafal Al-Qur’an, khususnya surah-surah pendek dari Al-Kautsar hingga An-Nas. Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan belajar Iqra’ dan mengaji, lalu kegiatan ditutup dengan pulang bersama.”
Lebih jauh, pengajar juga menyesuaikan metode pembelajaran berdasarkan tingkat kemampuan anak. Bahkan terdapat murid Iqra’ 1 yang membutuhkan waktu hingga 2–3 bulan untuk lancar membaca. Jika mereka belum mengenal huruf atau membaca kebalik-balik, mereka akan mengulang pelajaran sambil menulis huruf-huruf yang belum dikenali, tanpa paksaan.
Setelah kemampuan dasar terbentuk, murid di tahap kedua dan ketiga biasanya sudah bisa mengeja dengan baik. Anak yang lambat dibimbing sabar, sementara anak yang cepat dapat segera naik ke tingkat berikutnya. Hal ini dilakukan agar kualitas anak benar-benar matang sebelum naik ke tahap berikutnya.
Meski demikian, perjalanan pembelajaran ini tidak lepas dari tantangan. Nizar mengakui bahwa beberapa anak ada yang jarang hadir, sehingga pelajaran yang sudah diberikan terlupakan dan harus diulang dari awal. Selain itu, fasilitas yang kurang memadai juga menjadi kendala.
“Kendala yang sering kami hadapi biasanya adalah adanya anak-anak yang cukup lama tidak hadir. Ketika kembali, bacaan yang sebelumnya telah dipelajari sudah terlupakan sehingga harus diulang dari awal. Hal ini tentu membuat proses mengajar menjadi cukup berat. Selain itu, perhatian orang tua juga menjadi faktor penting yang memengaruhi keberhasilan belajar anak,” ungkapnya.
Dari sisi perlengkapan, meja belajar memang sudah tersedia, tetapi jumlahnya hanya sekitar 10 unit, padahal idealnya sesuai dengan jumlah murid, tambahnya.
Lebih jauh lagi, alasan berdirinya TPA ini berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Nizar yang telah lama tinggal di daerah tersebut melihat belum adanya taman pengajian di sekitar. Keberadaan perumahan BTN dengan jumlah penduduk yang cukup padat, membuat dirinya dan tim tergerak untuk membuka TPA bersama demi memfasilitasi anak-anak belajar Al-Qur’an.
Dengan melihat berbagai tantangan dan peluang tersebut, ia berharap agar kedepannya TPA ini dapat berkembang dengan dukungan sarana yang memadai serta kerja sama erat antara guru dan orang tua.
“Harapan saya, TPA ini dapat memiliki perlengkapan belajar yang memadai agar proses pembelajaran bisa berjalan maksimal dan berkembang dengan baik. Dari seluruh anak yang terdaftar, yang hadir rata-rata hanya stengahnya. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama antara guru dan orang tua. Kami sudah berupaya mengundang orang tua untuk hadir, namun masih banyak yang belum menyadari pentingnya belajar Al-Qur’an,” pungkasnya.
Dengan pembelajaran yang terstruktur, metode yang ramah anak, dan program unggulan yang komprehensif, TPA Al-Markaz Al-Islami hadir sebagai wadah terbaik untuk membimbing anak mencintai Al-Qur’an sejak dini, sekaligus membentuk generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.
(Penulis: Haikal, Ilyansyah, Faruk, Fajri, dan Isran)






