“Jelang HUT RI ke-80, Ketua MUI Sulteng Tekankan Peran Pemuda dalam Mempertahankan Kemerdekaan”
Sigi – MUI Sulteng, Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tengah, Habib Ali Bin Muhammad Al-Jufri, menyampaikan pesan mendalam mengenai arti kemerdekaan di kediamannya, Jalan Pue Njidi, Kelurahan Kabonena, Kota Palu, Rabu (13/8/2025).
Menurutnya, kemerdekaan yang dinikmati saat ini bukan hadiah yang datang begitu saja, melainkan hasil pengorbanan besar para pejuang terdahulu, yang rela berjuang dengan jiwa, raga, dan harta demi masa depan bangsa.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab mempertahankan kemerdekaan kini berada di tangan generasi penerus. Ia menggambarkan kemerdekaan seperti estafet dalam lomba lari, di mana generasi sebelumnya telah berlari menyerahkan tongkat perjuangan kepada generasi kini, dan tugas mereka adalah memastikan tongkat itu tidak terjatuh.
“Pertama, kita harus mengenang para pejuang, sebab tanpa mereka tidak akan ada hari ini. Kita memiliki tanggung jawab sebagai warga negara yang hidup di negeri ini. Apabila suatu saat Allah SWT bertanya, ‘Apa yang telah kalian lakukan terhadap perjuangan orang terdahulu? Apakah kalian membuat mereka bangga atau kecewa?’ Maka kita harus mampu menjawabnya. Menjatuhkan tongkat perjuangan berarti mengecewakan mereka yang telah berkorban untuk menyerahkannya kepada kita,” ungkapnya.
Saat ditanya mengenai banyaknya pemuda yang bangga melakukan perbuatan tercela seperti tawuran, narkoba, dan pencurian, ia menegaskan bahwa generasi muda memegang peranan penting dalam menentukan arah bangsa di masa depan.
“Generasi sekarang adalah penentu wajah Indonesia di masa depan. Apabila mereka baik, bangsa akan baik. Namun apabila mereka rusak, kehancuran akan melanjut di generasi berikutnya. Itulah mengapa para pemuda sering menjadi sasaran untuk dihancurkan. Sebab mereka adalah penerus, dan jika penerusnya hancur, maka apa yang diperjuangkan akan hilang,” jelasnya lebih lanjut.
Ia menekankan bahwa menghadapi peran besar ini bukan dengan mencemoh pemuda, tetapi dengan memahami latar belakang mereka. Kehidupan penuh contoh, dan ketika contoh baik hilang, yang tersisa hanyalah contoh yang salah. Sehingga generasi muda kehilangan arah. Tugas ini bukan hanya tanggung jawab MUI, tetapi tanggung jawab kita semua.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya menjaga persatuan sebagai syarat mutlak mempertahankan kemerdekaan.
“Kita bisa berbeda, tetapi bukan berarti harus bermusuhan. Perbedaan adalah hal yang wajar, namun yang salah adalah menjadikannya alasan untuk saling bermusuhan. Bahkan di antara sesama umat Islam, terdapat perbedaan seperti dalam pelaksanaan tahlil atau peringatan maulid. Bagi saya, silakan saja jika ingin melaksanakannya atau tidak, itu adalah pilihan masing-masing. Yang terpenting adalah tidak saling menyalahkan,” ujarnya.
Dengan pesan-pesan tersebut, Ketua MUI Sulteng menekankan pentingnya kesadaran generasi muda dalam menjaga kemerdekaan, menghargai perjuangan para pahlawan, serta mempertahankan persatuan bangsa di tengah perbedaan.
(Penulis: Haikal, Ilyansyah, Fajri, Faruk dan Isran)






