Site icon Majelis Ulama Indonesia

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka (17 Agustus 1945-2025)

Sigi – MUI Sulteng, Setiap peringatan 17 Agustus, kita tidak hanya merayakan kemerdekaan, tetapi juga meneguhkan kembali janji kebangsaan. Kemerdekaan yang diwariskan para pejuang adalah pintu, sedangkan tugas kita sebagai anak bangsa adalah mengisinya dengan cita-cita luhur.

Momen 17 Agustus menjadi bernilai jika kita mau melakukan refleksi sekaligus otokritik pada diri sendiri sebagai bangsa dan sebagai warga negara. Dalam konteks itu,  Ketua Umum MUI Sulawesi Tengah, HS. Ali Bin Muhammad Al-Jufri memberikan tausiah refleksi diri dengan mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib ra.

Dalam nasihatnya, Imam Ali mengingatkan:
“Tiada kebaikan bagi satu bangsa jika senjata mereka berada di tangan para pengecut.
Dan harta mereka di tangan para perampok.
Dan pena mereka di tangan orang-orang munafik.”

Betapa relevan kata-kata ini dengan amanah konstitusi kita. Dalam Pembukaan UUD 1945, bangsa Indonesia menegaskan tujuan bernegara:

Tujuan ini hanya bisa terwujud jika:

Di hadapan sejarah, setiap anak bangsa memikul tanggung jawab. Petani, nelayan, buruh, guru, pelajar, dan pemimpin – semua memiliki bagian dalam mewujudkan amanah Pembukaan UUD 1945. Karena kemerdekaan bukan hanya hadiah, tetapi titipan yang harus dijaga dan diperjuangkan sepanjang zaman.

Peringatan 17 Agustus adalah momentum suci untuk bertanya pada diri: sudahkah kita menjadi generasi yang berani, amanah, dan jujur? Sudahkah kita mengisi kemerdekaan sesuai cita-cita luhur konstitusi?

Kemerdekaan adalah cahaya. Tugas kita adalah menjaganya agar tidak padam, meneruskannya agar semakin terang, dan mewujudkannya agar benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh rakyat Indonesia.

(Penulis: Haikal, Ilyansyah, Fajri, Faruk dan Isran)

Exit mobile version